Skip to main content

Pizza Singkong Yummy, Crispy Dan Menyehatkan



 
pizza singkong kreasi Kendal Gede Kreatif (dok. Maria G. Soemitro)

Berawal  ingin mengenalkan makanan sehat berbahan baku lokal pada anak-anak, kamipun mulai mengutak ngutik resep untuk meracik makanan sehat. Terlalu lama anak-anak digempur makanan miskin gizi dalam kemasan yang dijual di setiap warung dalam gang sempit hingga supermarket besar.

Akhirnya kami mencoba membuat pizza dari tepung mocaf, singkatan Modified Cassava Flour yaitu tepung yang terbuat dari singkong dan dimodifikasi hingga mirip banget dengan tepung terigu. Bedanya tentu ada, karena bahan bakunya beda. Tapi mereka yang sudah sering mengonsumsi makanan berbahan tepung mocaf justru menyukainya. Mungkin seperti MSG yang dulu begitu booming hingga ibu rumah tangga tidak pede jika tidak membubuhkan MSG pada masakannya. Ternyata sekarang? Olala banyak yang mual sesudah mengonsumsinya dan tegas mengatakan “tidak” pada tukang mi bakso yang biasanya membubuhkan MSG banyak-banyak.

Ah, nampaknya pemerintah harus gencar mengkampanyekan tepung local ya? Karena stoknya sudah tersedia di hampir seluruh toko bahan-bahan kue. Bagaimana mau mencapai kedaulatan pangan jika petani tidak dibantu memasarkan hasil produksinya?

Oiya, harga tepung mocaf lebih mahal dibanding tepung terigu yang nyata-nyata sulit dibudidayakan di Indonesia. Aneh bukan? Tepung impor lebih murah dibanding tepung lokal, menjadi indikator bahwa selama ini petani harus berjibaku tanpa bantuan pemerintah.

Ketika memulai eksperimen, kami menggunakan daging cincang tetapi kemudian ibu-ibu berinisiatif menyampurnya dengan sosis agar harganya lebih terjangkau ketika dijual di warung-warung.

Bahan bahan yang digunakan sebagai berikut:

Bahan :
·                     500 gram gram tepung mocaf
·                     250 gram singkong diparut
·                     2 butir telur
·                     1 bungkus ragi instan
·                     1/2 sdt garam
·                     1/2 sdt gula pasir
·                     100 ml air
Bahan Topping :
·         100 gr daging sapi giling/sosis
·         1 buah bawang bombay, dicincang halus
·         2 siung bawang putih, dicincang halus
·         200 ml saos tomat
·         1/2 sdt garam
·         1/4 sdt merica bubuk
·         1/2 sdt oregano
·         2 cabai hijau/paprika, iris tipis

Cara Membuatnya :
1.    Aduk tepung mocaf, singkong, tambahkan telur, ragi, garam, gula dan air sambil diuleni hingga kalis. Diamkan adonan selama 60 menit.
2.    Tumis bawang bombay, bawang putih hingga layu. Masukkan daging giling/sosis, saus tomat, gula dan garam.
3.    Setelah kering tambahkan oregano
4.    Giling adonan dan bentuk bulat diameter 7 cm. Tekan bagian pinggirnya agar lebih tebal. Panggang selama 25 menit.
5.    Taburkan bahan topping, tambahkan cabai hijau lalu panggang hingga matang.

Hasilnya?  Hmmmmm…….. yummyyyy , crispy. Mungkin pengaruh penggunaan tepung mocaf dan parutan singkong menjadikan rasa pizza singkong begitu spesial, gurih tapi ngga bikin eneg. Dan pastinya menyehatkan karena gluten free.  
Tertarik mencoba?

Anak-anak selain ikut masak juga pencicip pertama




anak-anak, tujuan pembuatan makanan sehat 

Comments

Popular posts from this blog

Imas Masitoh; Perempuan Pejuang dari Kampung Cibungur

Hidup dengan kekurangan materi tidak menyurutkan langkah Imas Masitoh Resmiati untuk berbuat baik pada sesama. Penjual gorengan berusia 42 tahun ini merasa terenyuh melihat banyaknya anak yatim piatu   disekitar tempat tinggalnya.   Imas memahami betapa mereka butuh perhatian dan kasih sayang. Kebutuhan intangible yang sering tidak dipedulikan   di masa serba cepat dan instan ini. Padahal banyak diantara anak yatim piatu yang tergolong anak berkebutuhan khusus. Imaspun   akhirnya   berinisiatif mengasuh mereka. Apa yang dilakukan Imas tergolong nekad. Penghasilan dari hasil menjual gorengan dan keset hasil kerajinan tangan yang dijajakan dari rumah ke rumah, jelas tidaklah cukup. Ditambah suaminya pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja. Rumah kecilnya juga tidak dapat menampung penghuni baru karena Imas sudah memiliki 2 anak. Namun Imas percaya, Tuhan akan membantu setiap perbuatan baik. Dan keyakinannya terbukti, bantuan mengalir. Jumlah an...

Cup Cake Bayam, Rayuan Maut Untuk Anak-anak Komunitas yang Enggan Makan Sayur

panen bayam di Bandung Berkebun Anak-anak ngga mau makan sayur? Duh, rupanya jadi cerita klise yang diulang-ulang, ya? Padahal salah satu hasil urban farming yang berlimpah di komunitas dampingan adalah bayam. Mudah tumbuhnya dan seedsnyapun murah. Alhasil sering banget berakhir sia-sia karena keluarga bosen makan sayur bening bayam. Pastinya harus ada strategi khusus agar sayuran bayam bisa diberdayakan ya? Bukan saja agar tidak terbuang, bayam juga bermanfaat bagi kesehatan. Apa saja? 1.       Kandungan Vitamin A nya sangat tinggi sehingga pastinya berkhasiat menjaga kesehatan mata. 2.       Mengandung Vitamin K yang pastinya membantu penyerapan Kalsium. Sehingga sangat berguna untuk tumbuh kembang anak juga orang lanjut usia. 3.       Mengandung flavgonoid sehingga mampu meredam infeksi tubuh yang sebabkan kanker. 4.       Mengandung banyak serat yang bermanfa...

Analisis Minat dan Potensi Anak dengan Tes Sidik Jari, Mungkinkah?

source: kesekolah.com Tidak mudah menjadi orang tua. Terlebih ketika tanda lulus sekolah hampir diraih tapi ternyata anak gamang menentukan pilihan sekolah. Padahal psikotes yang menunjukkan minat dan potensi anak sudah dilakukan di tahun pertama Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan tahun pertama Sekolah Menengah Atas (SMA). Sehingga seharusnya orang tua dan anak cukup mempunyai  bekal untuk memilih jurusan sekolah yang akan diambilnya. Apakah IPS atau IPA? Demikian juga jurusan Perguruan Tinggi yang dirasa paling tepat karena sesuai bakat dan minat. Tetapi  kegamangan orang tua dan anak rupanya menciptakan pasar baru. Dengan iming-iming  hasil   tes grafologi  lebih akurat  maka  jasa tes grafologi untuk mendeteksi minat bakat  anak beserta konselingnya bermunculan. Sesungguhnya grafologi bukan sesuatu yang baru karena  sudah dipelajari di Klinik psikologi Harvard tahun 1930  dan dikembangkan tahun 1955 untuk meni...