Skip to main content

Posts

Showing posts with the label sahabat difabel

Calon Miss Indonesia dan Sahabat Difabel

Tolong dukung calon Miss Indonesia … bla … bla ………  Demikian isi thread yang muncul di lini masa. Dengan semakin banyaknya pengguna media sosial, marak pula iklan, kampanye dan permintaan dukungan. Umumnya pihak penyelenggara acara mensyaratkan vote /dukungan pada pesertanya karena merupakan cara mudah dan murah untuk  menaikkan rating/mempromosikan gelarannya. Apakah pengumpul vote terbanyak akan menang? Bisa ya bisa tidak. Mengapa? Mmmm…, salah satunya karena rawan kecurangan alias bukan vote murni. Oke kita ngga bahas itu. Tapi mengenai  seorang kontestan Miss Indonesia 2015 yang  mengikuti mata kuliah dan kepanitiaan inklusi yang fokus dalam pelayanan bagi penyandang cacat dan berujar: ”Terkadang kesempurnaan yang kita miliki membuat lupa bahwa di sekeliling kita masih banyak yang kekurangan dan butuh uluran tangan,”  Sangat disayangkan, karena harusnya sebagai calon Miss Indonesia dia tidak hanya bisa gugling tentang penyandang difabel yan...

Peran Teknologi Komunikasi Bagi Penyandang Difabel

Salah Satu Cara Rodhi Mahfur Memasarkan karyanya Pada tahun 1987, pendiri Microsoft, Bill Gates memprediksi bahwa 20 tahun mendatang teknologi komunikasi semudah sentuhan jari. Ramalannya terbukti. Kini berkat kemajuan teknologi presiden SBY bisa teleconference dari Jakarta membahas bencana asap di Riau dengan pejabat setempat. Seorang ibu di Indonesia bisa melepas kangen dengan anaknya yang belajar di Eropa melalui Skype. Seorang kepala produksi bisa mengorganisir proses produksi dengan menggunakan ponselnya. Kemajuan teknologi komunikasi sungguh mempermudah, mempercepat dan mendekatkan jarak sehingga menghemat biaya. Salah satu sektor yang sangat terbantu dengan kemajuan teknologi komunikasi adalah industri kreatif. Industri yang memerlukan pemasaran intens dengan biaya minim. Karena umumnya penggiat ekonomi kreatif tidak saja bermodal cekak, produksinyapun bukan barang pabrikan. Contohnya lukisan, musik indie dan buku-buku yang diterbitkan sendiri.  Opik Ge...

Sri Lestari, Penyandang Paraplegi yang Menginspirasi

Sudah menjadi pengetahuan umum, di negeri ini fasilitas publik masih sangat jauh dari nyaman. Lihat saja, misalnya, ketiadaan jalur untuk pejalan kaki di jalan-jalan raya di penjuru kota, minimnya taman hijau, belum lagi, parahnya infrastruktur transportasi publik kita. Pernahkah terlintas di benak kita, bagaimana nasib para penyandang disabilitas di sekitar kita? Menurut Budhi Hermanto, koordinator advokasi United Cerebral Palsy-Roda Untuk Kemanusiaan (UCPRUK), Yogyakarta, selama ini para penyandang disabilitas  masih mengalami kesulitan akses untuk mobilitas mereka. “Saya sering menemui penyandang disabilitas yang terkurung di rumah, baik itu sembunyi maupun sengaja disembunyikan oleh keluarga. Mereka tidak punya kesempatan untuk bisa kemana-mana,” jelas Budhi. Bagi penyandang tuna daksa, kursi roda mungkin bisa menjadi solusi, mereka bisa berjalan-jalan keluar rumah. Akan tetapi, menurut pengamatan Budhi, itupun masih harus menghadapi masalah, misalnya inf...

BILIC, Komunitas Difabel Yang Luar Biasa

Para punggawa BILIC 2012(Aden, Opik, Yuyuen, Siti, penulis, Poppy, Yani , Yati) (dok. Maria Hardayanto) Manis dan beruntung  itulah kesan penulis terhadap Yani ketika pertama kali bertemu di suatu rapat Bandung Independent Living Centre (BILIC)  sekitar tahun 2009 di Taman Ganesha, Bandung. Beruntung karena  Yani “hanya” terserang virus polio yang menyebabkan sebelah kakinya pincang dan harus diseret. Yani juga beruntung mempunyai dua anak yang lucu-lucu walaupun suaminya lumpuh kedua kakinya sehingga harus berjalan dengan bertelekan pada punggung kaki. Ketika berjalan tubuh Asep akan setinggi anaknya, Kiki yang berumur 7 tahun. Tetapi keberuntungan Yani yang terbesar adalah dukungan keluarganya untuk sekolah dan mandiri. Karena sikap banyak pihak di luar lingkungan keluarga sangat memarjinalkan kedudukan penyandang difabel (different ability).  Ada yang  iseng  meniru gerak kakinya yang pincang sambil membuntuti atau berpura-pura terjatuh didep...

Yani dan Erna, Penyandang Disabilitas yang Telah Berhasil Melatih Ribuan Orang

Yani dan Erna serta kegiatan-kegiatan mereka (dok. Maria Hardayanto) Panik! ! Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB. Pelatihan bersama narapidana dan tahanan perempuan di lembaga pemasyarakatan (LP) perempuan golongan IIA  Bandung harus segera dimulai.  Tapi dua pelatihnya, Yani dan Erna belum juga tiba. Untunglah koneksi pada ponsel Erna akhirnya tersambung: “Bu, Erna salah turun. Erna turun di  LP pria Sukamiskin . Gimana dong?” “Panggil ojek, Er. Naik ojek kesini. Bilang aja mau ke LP perempuan  di jalan Pacuan Kuda”. “Nggak ada ojek yang lewat, bu” Wuaduhh, ……… dengan bergegas, penulis meninggalkan  ibu Neneng dan berlari keluar dari lokasi LP sambil membaca sms yang baru masuk. Rupanya Yanipun turun di lokasi yang sama tapi salah, yaitu LP kelas I yang terletak di jalan Raya Sukamiskin Bandung. Letak LP khusus pria di jalan Sukamiskin  dan LP perempuan di jalan Pacuan Kuda, memang hanya berjarak kurang lebih 100 meter...