Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kesejahteraan

Koperasi Motekar, Wujud Ucapan Bung Hatta Bagi Perekonomian Indonesia

Perempuan berusia 45 tahun itu bernama Yati. Memakai baju biru dan kerudung senada, dia dan 7 orang teman  seusia bergegas memasuki halaman Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ekuitas (STIE) jalan Surapati Bandung. Nampak menyolok diantara mahasiswa/i yang lalu lalang di sekitar kampus. Terlebih jika mengetahui tujuan kedatangan mereka, “Hari ini saya mau kuliah”, kata  Yati dengan wajah penuh senyum. Ucapannya mungkin berlebihan, mengingat latar belakang mereka lulusan sekolah menengah pertama, namun ada benarnya. Secara periodik, STIE Ekuitas menyelenggarakan program layanan masyarakat. Salah satunya bersama koperasi bank sampah Motekar, tempat Yati bernaung, perguruan tinggi tersebut memberikan pelatihan membuat pembukuan dan laporan keuangan dengan benar. Selain itu juga ada sesi pengenalan internet , para anggota komunitas belajar membuat email, akun media sosial dan tata tertib penggunaannya, agar tidak mengalami kendala ketika  berkecimpung dalam marketing digit...

Sejuta Asa di Pasar Rakyat

Pukul 07.30 di Pasar Andir Kota Bandung. Seorang perempuan, berkerudung hijau penuh manik-manik  nampak asyik  mematut pakaian dalam sambil bertanya dan menawar dengan logat Sumatera. Pemilik barang, seorang perempuan  bertubuh subur, menjawab setiap pertanyaan seraya mengeluarkan puluhan pakaian dalam lainnya. Ada banyak corak, warna dan ukuran. Mereka tak peduli bau amis menguar dari kios ikan. Penjualnya hampir tak nampak,  tenggelam dalam tumpukan  ikan mas yang sedang dibersihkan dari sisik dan jeroannya. Tidak hanya bau amis, pengunjung pasar akan disuguhi bau got mampet yang tertimpa anyirnya aroma  daging sapi. Tak heran, setidaknya ada 3 kios penjual daging. Kios pertama diapit kios sayur mayur dan penjual kue basah yang menjual donat, aneka kudapan berbahan singkong, risoles serta beras ketan yang dimasak dalam beragam bentuk dan rasa. Kios daging  kedua bersebelahan dengan penjual ikan pindang. Pemilik kios daging, laki-laki par...

Bank Sampah, Solusi Pengumpulan Dana Masyarakat

“Duh, ibu rajin sekali angkat-angkat sampah” Kalimat satire tersebut akrab didengar pengurus Bank Sampah. Maksudnya, ih ibu kok mau sih bergaul dengan sampah, sampah kan bau dan menjijikkan. Turun derajat bu, ngurusin sampah mah.” Tentu saja itu tafsiran bebas, walau jika mau jujur, paradigma kita terhadap sampah kan seperti itu. Sedangkannnn …….. jika para penggunjing itu tahu bahwa sampah yang dibuang sia-sia ternyata mengandung nilai yang tinggi, pastilah mereka akan terdiam. Tulisan ini meneruskan tulisan ini, yang menyinggung tentang pembentukan bank sampah dan jutaan rupiah bisa dihimpun dalam bank sampah dengan perincian sebagai berikut: Satu RW umumnya terdiri dari 5 – 10 RT. Satu RT terdiri dari 100 – 200 kepala keluarga (KK). Berarti 1 RW terdiri dari 500 – 1000 KK. Andaikan 500 KK (jumlah terkecil) menyetor sampah @ Rp 1.000/minggu, maka selama setahun bank sampah di RW tersebut sanggup menghimpun dana kurang lebih 52 x 500 x Rp 1.000 = Rp 26.000.000/...

Kisah Sukses Bank Sampah Motekar

Tanggal 20 Januari 2016 silam, saya berkesempatan mengikuti rapat pertanggung jawaban Bank Sampah Motekar. Suatu sub divisi yang dibentuk Kendal Gede Kreatif dan berdomisili di kelurahan Sukagalih kecamatan Sukajadi Kota Bandung. Ini rapat tahunan kedua, dan berapa rupiah yang berputar dalam setahun? Wow 51 juta rupiah!! Sangat lumayan bukan? Karena perputaran uang menandai meningkatnya perekonomian anggota. Anggota bank sampah tidak harus meminjam pada rentenir ketika membutuhkan dana untuk anggota keluarga yang sakit, biaya pendidikan, tambahan modal dagang hingga kemudahan membeli sembako. Iya, di sini anggota bisa membeli sembako dengan cara ‘bayar bulan depan’, salah satu manfaat dana bergulir yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Kisahnya berawal ketika pada tahun 2011, saya mengajak ibu-ibu yang berdomisili di dekat lahan Bandung Berkebun, untuk membentuk komunitas. Tujuannya untuk mengaplikasikan apa yang saya ketahui mengenai pengelolaan sampah berbasis komun...

Bank Sampah Pengubah Lifestyle

"Ah, bank sampah mah sama dengan pengepul, bedanya itu yang ngerjain ibu-ibu" demikian komentar seorang pengepul menanggapi maraknya pendirian bank sampah di Indonesia. Benarkah sama? Tentu saja tidak sama. Perbedaannya sangat menyolok. Bank Sampah merupakan rekayasa sosial dalam pengubahan sistem pembuangan sampah dari kumpul angkut buang menjadi pemisahan sampah sejak di hulu yaitu di rumah masing-masing. Lebih tepatnya kegiatan Bank Sampah merupakan proses ‘pemadaman api’ bagi kebiasaan warga yang sudah kadung nyampah . Bagaimana pemecahan masalah agar timbul lifestyle baru? Itulah tantangannya. Untunglah aktivitas anggota komunitas selalu dinamis, kegiatan baru senantiasa dicari dan diadakan agar pertemuan tiap minggu tidak membosankan. Pada tahun 2012, saya mengajak mereka mencatat dan menjual sampah anorganiknya. Cukup lama berlangsung, sekitar 6 bulan sebab kegiatan bank sampah tidak mungkin saya lakukan sendiri di rumah. Ini kegiatan komuni...

Terhindar Jerat Rentenir Berkat Bank Sampah

“Bu, Alhamdullilah, ayeuna mah banyak warga yang jadi anggota bank sampah karena bisa pinjam uang. Dulu pan kapaksa pinjam ke rentenir. Atuda gimana , kalo udah kepepet ya terpaksa ke mereka walau bunganya kalo ngga tepat waktu teh bakal berbunga lagi.” Kalimat gado-gado campuran bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda tersebut kurang lebih artinya yaitu Ibu Ateu sebagai ketua Bank Sampah Sukamulya Indah sangat bersyukur dengan adanya bank sampah. Berkat bank sampah, warga bisa meminjam uang pada saat diperlukan. Karena sebelumnya mereka terpaksa meminjam uang pada rentenir dan terkena bunga pinjaman sangat tinggi. Jika warga tidak mampu membayar tepat waktu maka akan dikenakan bunga berbunga (bunga atas pinjaman + bunga) yang tentu saja sangat memberatkan. Keberhasilan Bank Sampah Sukamulya Indah yang terletak di Kecamatan Sukajadi Kota Bandung melawan rentenir sungguh diluar ekspetasi saya. Tujuan awalnya hanya ingin mengajak warga mengelola sampah ternyat...