Skip to main content

Kartini Menggugat ........


Kulihat Kartini termangu. Irama tubuhnya menunjukkan suasana hatinya. Dia tersedu perlahan.

“Kartini, Mengapa kau menangis ?”

Kartini  mengerjapkan  mata, meluruhkan bulir airmata diantara lentik bulu matanya.

“Aku sedih melihat kenaifan yg dilakukan kaumku. Mengapa mereka harus memperingati hari Kartini dengan Lomba Kebaya ? Bahkan customer service Telkom, kasir bank berkebaya. Padahal mereka harus melayani pelanggan. Sungguh tidak praktis dan membuat pekerjaan tidak efisien. Aku tak mengerti, siapa yang memulai kebiasaan anehini? Apakah karena aku berkebaya maka hari jadiku diperingati dengan berkebaya? Apabila ingin melestarikan kebaya, tentukanlah hari Kebaya sendiri. Ini menyedihkan! Ini konyol!”

“Apa yang kaumau ?”

“Aku ingin kaumku berkarya. Tidak menghabiskan waktu dengan menonton sinetron dan infotainment. Manfaat apa yang mereka dapat dari tontonan seperti itu  kecuali keinginan memiliki baju, sepatu, tas seperti selebriti yang sering ditontonnya? Bahkan gaya rambutpun dibuat mirip. Sungguh mengenaskan melihat mereka menjadi korban pasar hingga berperilaku konsumtif dan menciptakan nilai-nilai kehidupan yang tak wajar.

“Ah, kau kan tidak tahu bahwa mereka sudah menyelesaikan tugas rumah tangganya?”

“Seberapa maksimal pekerjaan rumah tangga yang dikerjakan dengan terburu-buru karena ingin menonton sinetron? Seberapa banyak sisa waktu yang dapat mereka  gunakan untuk mencoba resep makanan terbaru? Bahkan berbincang dengan suami dan anak-anaknya mungkin seperlunya.”

“Oho, jangan-jangan anaknya malah diajak bergunjing tentang selebriti dan menonton sinetron”

Kartini mengusap airmata dari pipinya yang halus dan bergumam :
“Jangan kautambah gundah hatiku. Mengapa mereka menjadi seapatis itu?”

“Ah, sudahlah jangan gundah. Banyak diantara mereka yang pergi ke pengajian hampir tiap hari karena kini setiap kelurahan, birojasa ibadah Haji dan komunitas tertentu menyelenggarakan pengajian bahkan mereka membentuk majelis taklim.”

“Oh betulkah? Menurutku itu bagus. Apakah mereka sudah mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari pengajian? Berapa jumlah majelis taklim tersebut?”

“Dikota ini ? Mungkin 100, mungkin lebih.”

“Kalikan 100 majelis taklim dengan frekwensi pengajian seminggu sekali dengan jumlah jamaah kurang lebih 50 orang dan masing-masing menyumbang Rp 5.000 untuk kencleng”

“mmmm…………….seratus juta rupiah  per bulan”

“Jumlah yang banyak bukan. Padahal itu bukan angka valid karena kemungkinan jumlahnya lebih besar dari itu. Cukup besar untuk membantu rekannya sesama perempuan. Negara ini sedang “sakit”! Perlu menggalang kesetiakawanan sosial. Menggalang solidaritas.”

“Ah seperti jargon partai !”

“Jangan terjebak pro dan kontra partai politik. Hanya karena disuarakan partai politik bukan berarti semangat solidaritas sosial menjadi buruk.”

“Apa yang kauharapkan?”

“Dengan dana itu mereka bisa mendirikan kursus bahasa Inggris gratis. Atau kursus masak gratis. Atau kursus-kursus lain yang diperlukan perempuan yang kebetulan tidak mampu membayar biaya kursus yang sangat mahal per paketnya. Mereka juga bisa mengajari anak jalanan baca tulis. Atau membentuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).”

“Jangan kausamakan dengan dirimu yang kebetulan mendapat fasilitas. Merintis sesuatu adalah tugas yang sulit. Apalagi mengumpulkan anak jalanan, wah!”

“Kalau enggan memulai, banyak tempat yang memerlukan tenaga sukarela. Misalnya lapas wanita. Mereka bisa memberi pelajaran membaca  karena masih banyak napi yang butahuruf. Atau  pelajaran Bahasa Inggris, Kerajinan tangan  atau apapun yang sangat berguna membantu mereka menghabiskan waktu sambil membekali mereka agar siap ketika  bebas kelak.”

“Kau berharap terlalu banyak, terlalu tinggi! Mereka juga sering mengumpulkan dana untuk korban bencana alam”, elakku sambil bersungut-sungut.

Anak TKpun bisa menyumbang korban bencana alam!! “

Aku ternganga tapi tak kehabisan kata.
“Apakah kau tahu, sekarang mereka mempunyai suara 30 % di parlemen.”

Kartini menggeleng, matanya meredup.
“Aku tahu. Percuma!  Apabila mereka menjadi anggota parlemen  hanya karena fisik perempuannya tapi tidak sanggup menyuarakan kepentingan perempuan. Hingga hasil keputusan umumnya selalu netral gender.

“Maksudmu?”

“Perempuan itu spesifik, istimewa. Hanya perempuanlah yang mampu memperjuangkan kepentingan air bersih dan cuti haid. Perempuan juga yang mengetahui bahwa dirinya memerlukan ruang laktasi hingga perlu diperjuangkan keberadaannya di mall-mall.Sehingga  perempuan tidak harus mengeluarkan payudaranya untuk menyusui anaknya di tengah keramaian. Karena pria yang melihat hanya akan berfikir : Wah, bisa terkena Undang-Undang Pornografi nih.”
Terpaksa aku tersenyum mendengar kalimatnya yang terakhir.

“Jadi, apa yang harus mereka lakukan?”

“Mereka harus mempunyai kepedulian yang jelas tentang posisi perempuan di masyarakat. Berupaya lebih peduli pada persoalan-persoalan perempuan dan jangan hanya “diam” karena enggan mengartikulasikan persoalan-persoalan tersebut.”

“Begitu banyak pekerjaan rumah mereka. Menurutmu, mengapa ini semua terjadi ?”
“Karena banyak perempuan yang masuk parlemen sekedar memenuhi quota. Sehingga mereka hanya menjadi “pajangan”. Tapi aku optimis, perubahan akan terjadi apabila mereka mau belajar.”

“Nampaknya tidak ada perempuan yang benar di matamu ?”

“Oh kau salah. Banyak perempuan Indonesia yang patut dibanggakan. Banyak perempuan Indonesia yang menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi pembantu rumah tangga di negeri orang, menjadi buruh angkat barang, menjadi tukang batu. Tapi yang paling hebat adalah perempuan yang mau menjadi Kader PKK.

“Kader PKK??”

“Ya, mereka mau  membantu mendata dari rumah ke rumah. Mengurusi Posyandu. Mendatangi penyandang cacat dan berusaha membantu mereka mencari solusi. Padahal mereka tidak dibayar sepeserpun. Banyak diantara mereka yang tidak lulus SD. Banyak diantara mereka dari golongan menengah kebawah tapi harus mengetuk pintu gerbang rumah tak ramah milik orang yang kebetulan adalah tetangganya.

“Ah, mereka hanya bekerja sebulan sekali. Atau mungkin seminggu sekali, tergantung kegiatan PKK.”

“Itulah yang kumaksud kesetiawanan sosial. Menggunakan sedikit waktu yang dipunyai setelah menyelesaikan rumah tangganya. Dengan sedikit waktupun banyak yang telah mereka kerjakan. Mereka bergerak tanpa banyak kata. Tanpa pamrih. Padahal mereka punya pilihan untuk tetap tinggal di rumah. Menonton sinetron dan infotainment bersama anak cucunya.”

“Anak cucu? Maksudmu?”

Kartini tersenyum miris.
“Aku sedih. Karena banyak dari mereka sudah sepuh. Mereka baru berhenti bekerja ketika tubuhnya makin renta, tak mampu digerakkan karena termakan usia. Hampir tidak ada regenerasi. Karena tidak ada kaum perempuan muda yang berminat menjadi Kader PKK. Bisa kaubayangkan apabila banyak perempuan yang ingin menjadi anggota dewan legislatif memulai karirnya sebagai Kader PKK ? 
Bertemu dengan banyak karakter di lingkungannya. Diterima atau ditolak kedatangannya. Dihina dengan hanya ditemui dari balik pagar nan mewah atau justru diberi secangkir teh manis dan diajak mengobrol. Menemui banyak kasus. Mengerti kondisi sosial masyarakat. Mengerti kebutuhan masyarakat. Sehingga ketika dia duduk di parlemen, dia sungguh-sungguh membawa aspirasi rakyat. Bukankah ajang pemilihan legislatif tahun 2009 kemarin sungguh lucu? Banyak perempuan yang tidak diketahui sepak terjangnya tiba-tiba memenuhi setiap ruang di  pinggir jalan dengan poster dirinya. Seolah hanya berbekal  kemolekan wajahnya maka masyarakat akan memilih dirinya. Ya ampun, apa yang dipikirkannya? Aku …………………….sungguh malu!”

Kartini tercekat. Aku terdiam.

Bandung, 21 April 2011
13033747581415223812
Kunjungan ibu PKK ke rumah penyandang difabel

Comments

Popular posts from this blog

Imas Masitoh; Perempuan Pejuang dari Kampung Cibungur

Hidup dengan kekurangan materi tidak menyurutkan langkah Imas Masitoh Resmiati untuk berbuat baik pada sesama. Penjual gorengan berusia 42 tahun ini merasa terenyuh melihat banyaknya anak yatim piatu   disekitar tempat tinggalnya.   Imas memahami betapa mereka butuh perhatian dan kasih sayang. Kebutuhan intangible yang sering tidak dipedulikan   di masa serba cepat dan instan ini. Padahal banyak diantara anak yatim piatu yang tergolong anak berkebutuhan khusus. Imaspun   akhirnya   berinisiatif mengasuh mereka. Apa yang dilakukan Imas tergolong nekad. Penghasilan dari hasil menjual gorengan dan keset hasil kerajinan tangan yang dijajakan dari rumah ke rumah, jelas tidaklah cukup. Ditambah suaminya pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja. Rumah kecilnya juga tidak dapat menampung penghuni baru karena Imas sudah memiliki 2 anak. Namun Imas percaya, Tuhan akan membantu setiap perbuatan baik. Dan keyakinannya terbukti, bantuan mengalir. Jumlah an...

Kiprah Anak Di Nu-Substance Festival 2012

4 hasil karya anak-anak komunitas bantaran sungai Cidurian (dok. Maria Hardayanto) Bandung kota kreatif, rupanya menjadi julukan tak terbantahkan. Berbagai ide baru muncul dari Bandung. Pangan, sandang dan musik. Mulai makanan seperti batagor dan keripik pedas bernama ndeso  Maicih. Aneka produk distro yang diapresiasi  pada gelaran tahunan Kickfest hingga perkawinan aliran musik Karinding dan heavy metal.  Semua berlimpah bagaikan kota lautan kreativitas. Tetapi bagamana dengan anak-anak usia sekolah? Apakah mereka mendapat kesempatan berkreativitas? Atau sebaliknya  mendapat intruksi hingga tercetak lulusan mirip  hasil pabrikan? Penulis mendapat kesempatan dua kali ketika anak-anak tersebut asyik menggambar. Kali pertama di acara De Syukron, acara ulang tahun Jawa Barat ke 67 yang  menyelenggarakan lomba menulis bertema : “Jawa Barat di Masa Depan” dan diikuti beberapa SDN ternama Kota Bandung. Ditunjang peralatan gambar maksimal, anak- ana...

Yuk Membuat Terrarium Sederhana

Pendekatan pada masyarakat dengan tujuan perubahan perilaku ramah lingkungan memang gampang-gampang susah. Ada waktunya suatu program berjalan di tempat alias tidak ada perubahan walau berbagai strategi sudah dicoba. Tetapi ada kalanya semua berjalan lancar tanpa hambatan seperti seharusnya jalan tol. Lancar dan menyenangkan. Salah satu kegiatan yang lancar adalah  membuat terrarium. Idenya berawal sewaktu mendapat  cendera mata  pernikahan  Rima , duta WWF Forest Friend yang melepas lajang tanggal 10 Juli 2011. Pembuatan terrarium menarik karena  seluruh anggota keluarga bisa terlibat untuk menanam dan memelihara tanaman hias dengan menggunakan ulang botol/gelas kaca yang sudah tidak terpakai. Bekas mug yang sudah patah pegangannya dan biasanya dibuang juga bisa dibuat cantik kembali. Akhir tujuan pembuatan terrarium bisa melebar. Seorang pembuat terrarium yang tekun dan kreatif bisa mendapat penghasilan dari terrarium yang unik dan inda...