Skip to main content

Ganyong, Salah Satu Solusi Ketahanan Pangan

tanaman ganyong, rimpangnya bisa menjadi pengganti beras



Indonesia terkenal kaya raya, subur makmur lohjinawi. Tapi mengapa kita selalu terpaku pada impor? Sandang , pangan , papan berbahan baku impor. Bahkan apabila tidak berhati-hati, maka sumber energypun sebentar lagi harus diimpor.

Padahal ada banyak alternatif lain selain beras yang selama ini kita konsumsi. Ada alternatif lain selain mengonsumsi obat/suplemen dari apotik? Dan alternatif lain itu kemungkinan besar terserak di pekarangan rumah/ taman kota.   Contohnya tanaman bunga dahlia yang cantik dan indah. Tidak banyak yang mengetahui bahwa umbi dahlia  mengandung  inulin yang  berfungsi sebagai prebiotik karena menjadi komponen pangan substrat mikroflora menguntungkan di dalam usus. Inulin juga membantu  meningkatkan penyerapan kalsium yang akan mencegah osteoporosis atau pengeroposan tulang.

Sedangkan sebagai bahan makanan alternative, umbi tanaman bunga tasbih (Canna edulis Kerr), atau masyarakat lebih mengenalnya sebagai  tanaman ganyong atau ganyol (bahasa Sunda) ternyata bisa dikonsumsi bahkan apabila dimasak ala chef maka penampilannya menjadi begitu menggoda (foto 1).

Ganyong (Canna edulis Kerr) adalah tanaman herba yang berasal dari Amerika Selatan. Termasuk tanaman dwi tahunan, ganyong sudah menyebar ke seluruh Nusantara khususnya Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Ganyong ditanam sebagai tanaman sela bersama jagung sesudah panen padi gogo. Atau dibiarkan tumbuh liar karena ganyong tumbuh baik di dataran rendah maupun tinggi. Tahan beragam penyakit dan bisa ditanam di daerah perkebunan atau kehutanan. Bahkan  di Australia, tanaman ganyong (canna discolor) tahan terhadap udara panas yang terkadang cukup ekstrim.
1349067075668538348
(foto2)tanaman ganyong (canna edulis) dok. Maria Hardayanto
Karena itu panen umbi ganyong sangat tergantung tempat menanamnya. Di dataran rendah sudah bisa dipanen pada umur 6 – 8 bulan sedangkan di daerah dengan curah hujan tinggi , waktu panen lebih lama yaitu pada umur 15 – 18 bulan.

Di beberapa tempat, masyarakat umbi menjadikan umbi ganyong sebagai  bahan makanan alternatif tatkala paceklik. Biasanya hanya dijadikan bubur karena rasanya manis tanpa mengetahui bahwa kandungan gizi ganyong cukup tinggi. Berdasarkan sumber dari Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI, setiap 100 gram ganyong terdiri dari 95,00 kcal ; karbohidrat  22,60 g ; protein 1,00 g;  lemak 0,11 g; air 75,00 g;  kalsium 21,00 g;  fosfor 75,00 g; zat besi 1,90 mg; vitamin B1 0,10 mg; vitamin C 10,00 mg.

Memang masih kalah dari kandungan gizi beras, yaitu setiap 100 gram beras terdiri dari : 370 kcal ; karbohidrat 81,68 g, protein 6,81 g, lemak 0,55 g ; air 10,46 g, B3, B5, B1, Potassium, Fosfor dan Magnesium.

Tetapi yang perlu dicermati adalah kandungan kalsium  dan fosfor pada ganyong yang cukup tinggi sehingga peneliti pangan dan gizi UGM, Dr Ir Eni Harmayani, MSc mengemukakan bahwa ganyong bisa digunakan sebagai makanan balita untuk mengatasi masalah gizi buruk.
1349067335129755773
(foto3)ganyong untuk konsumsi anak-anak (dok Maria Hardayanto)
Harus diapresiasi  ambisi Badan Ketahanan Pangan (BKP)Ciamis Jawa Barat menggunakan tepung ganyong untuk mengganti peran tepung gandum yang notabene masih impor. BKP Ciamis memulai uji coba pengembangan  ganyong sejak tahun 2002 dengan mengolahnya menjadi tepung ganyong dan membuat makanan seperti roti, kerupuk, mie dan makanan lainnya.

Puncaknya, Badan Bimas Ketahanan Pangan Ciamis membudidayakan ganyong secara massal. Beberapa daerah yang ditanami ganyong antara lain Desa Sindanglaya seluas 7,5 ha, Jati 0,5 ha, Sukadana seluas 0,5 ha, dan berencana membuka 25 ha lagi. Satu hektare lahan bisa menghasilkan ganyong kurang lebih sebanyak 60 ton umbi basah. Sedangkan untuk dijadikan tepung, diperlukan 100 kg umbi basah yang akan menghasilkan 20 kg tepung ganyong.

Caranya yaitu dengan mengupas kulit luar umbi ganyong, membersihkan, memarutnya untuk diambil ekstraksinya. Diaduk dengan tambahan air secukupnya, proses berikutnya adalah menyaring untuk diambil bubur patinya. Setelah diendapkan didapat tepung ganyong sebagai hasil akhir sedangkan sisa proses digunakan untuk pakan ternak.
1349067233978693743
(foto4)metamorfosis umbi ganyong menjadi brownies (dok. Maria Hardayanto)
Sesudah menjadi tepung ganyong, pengolahan menjadi lebih mudah dan beragam. Mau dibuat brownies (gambar diatas), kue kering, pizza, cupcake dan beragam pangan lainnya.
Sayangnya gaung BKP Ciamis untuk menempatkan tepung ganyong sebagai substitusi tepung gandum kurang terdengar atau bahkan tidak berhasil. Penyebabnya seperti biasa, tumpang tindih kebijakan birokrat dan sosialisasi setengah hati.

Tentu saja apabila hanya berpaku mencari pengganti peran tepung gandum, kita akan kecewa. Setiap jenis tepung mempunyai tekstur dan komposisi kandungan yang berbeda. Tekstur dan kandungan tepung gandum jelas berbeda dengan tepung beras, tepung jagung dan tepung singkong. Demikian pula tepung ganyong sehingga beberapa jenis makanan harus menggunakan tepung gandum sebagai campuran agar kue tetap lembut contohnya brownies ganyong.

Yang diperlukan adalah inovasi jenis makanan agar tepung ganyong dapat diterima dan dikonsumsi masyarakat. Atau cukup umbinya yang diproses sebagai bahan makanan pengganti lontong kari ayam. Karena khasiat umbi ganyong ternyata sangat banyak. Rasanya yang manis dan bersifat sejuk menjadikan umbinya sebagai penyejuk, pereda demam, peluruh kencing, penenang dan menurunkan tekanan darah.

Yellia Mangan, seorang herbalis di Jakarta mengemukakan bahwa kemampuan rimpang bunga tasbih (ganyong) menghilangkan keputihan lebih baik daripada daun sirih. Daun ganyong mengandung tannin dan sulphur sedangkan bunganya bersifat  hemostatis (menghentikan perdarahan).

Begitu banyak kekayaan hayati disekeliling kita. Bahkan tak dinyana umbi tanaman hias di pekarangan rumah ternyata dapat dikonsumsi karena mengandung zat pati (karbohidrat) dan berbagai manfaat bagi kesehatan. Jadi mengapa anak-anak kita masih jajan makanan tak berguna?  Hingga tak menerima asupan gizi sebagaimana mestinya. Padahal di pundak merekalah masa depan negara ini diletakkkan. Dan pemerintah melalaikan tanggungjawab utamanya yaitu : memenuhi pangan rakyatnya. Pangan yang bergizi tentunya.

**Maria G. Soemitro**
Sumber data :
mie pun bisa terbuat dari ganyong




Comments

  1. Kebetulan saya dibesarkan di Ciamis, sewaktu kecil saya juga cukup sering makan ganyong. Tetapi belum secanggih sekarang, hanya dimasak dengan cara direbus.

    Salam kenal, Bu. Dari yang tadi bertemu di Kompasianival. :)

    ReplyDelete
  2. aduh Fiscus, maaf baru jawab, maklum ngga akrab dengan fiturnya, ngga muncul di email rupanya.

    Iya, sekarang para petani udah membuat tepung ganyong. Sayang sosialisasi masih minim. Stok di distributor sering kosong.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Imas Masitoh; Perempuan Pejuang dari Kampung Cibungur

Hidup dengan kekurangan materi tidak menyurutkan langkah Imas Masitoh Resmiati untuk berbuat baik pada sesama. Penjual gorengan berusia 42 tahun ini merasa terenyuh melihat banyaknya anak yatim piatu   disekitar tempat tinggalnya.   Imas memahami betapa mereka butuh perhatian dan kasih sayang. Kebutuhan intangible yang sering tidak dipedulikan   di masa serba cepat dan instan ini. Padahal banyak diantara anak yatim piatu yang tergolong anak berkebutuhan khusus. Imaspun   akhirnya   berinisiatif mengasuh mereka. Apa yang dilakukan Imas tergolong nekad. Penghasilan dari hasil menjual gorengan dan keset hasil kerajinan tangan yang dijajakan dari rumah ke rumah, jelas tidaklah cukup. Ditambah suaminya pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja. Rumah kecilnya juga tidak dapat menampung penghuni baru karena Imas sudah memiliki 2 anak. Namun Imas percaya, Tuhan akan membantu setiap perbuatan baik. Dan keyakinannya terbukti, bantuan mengalir. Jumlah an...

Kiprah Anak Di Nu-Substance Festival 2012

4 hasil karya anak-anak komunitas bantaran sungai Cidurian (dok. Maria Hardayanto) Bandung kota kreatif, rupanya menjadi julukan tak terbantahkan. Berbagai ide baru muncul dari Bandung. Pangan, sandang dan musik. Mulai makanan seperti batagor dan keripik pedas bernama ndeso  Maicih. Aneka produk distro yang diapresiasi  pada gelaran tahunan Kickfest hingga perkawinan aliran musik Karinding dan heavy metal.  Semua berlimpah bagaikan kota lautan kreativitas. Tetapi bagamana dengan anak-anak usia sekolah? Apakah mereka mendapat kesempatan berkreativitas? Atau sebaliknya  mendapat intruksi hingga tercetak lulusan mirip  hasil pabrikan? Penulis mendapat kesempatan dua kali ketika anak-anak tersebut asyik menggambar. Kali pertama di acara De Syukron, acara ulang tahun Jawa Barat ke 67 yang  menyelenggarakan lomba menulis bertema : “Jawa Barat di Masa Depan” dan diikuti beberapa SDN ternama Kota Bandung. Ditunjang peralatan gambar maksimal, anak- ana...

Yuk Membuat Terrarium Sederhana

Pendekatan pada masyarakat dengan tujuan perubahan perilaku ramah lingkungan memang gampang-gampang susah. Ada waktunya suatu program berjalan di tempat alias tidak ada perubahan walau berbagai strategi sudah dicoba. Tetapi ada kalanya semua berjalan lancar tanpa hambatan seperti seharusnya jalan tol. Lancar dan menyenangkan. Salah satu kegiatan yang lancar adalah  membuat terrarium. Idenya berawal sewaktu mendapat  cendera mata  pernikahan  Rima , duta WWF Forest Friend yang melepas lajang tanggal 10 Juli 2011. Pembuatan terrarium menarik karena  seluruh anggota keluarga bisa terlibat untuk menanam dan memelihara tanaman hias dengan menggunakan ulang botol/gelas kaca yang sudah tidak terpakai. Bekas mug yang sudah patah pegangannya dan biasanya dibuang juga bisa dibuat cantik kembali. Akhir tujuan pembuatan terrarium bisa melebar. Seorang pembuat terrarium yang tekun dan kreatif bisa mendapat penghasilan dari terrarium yang unik dan inda...