Skip to main content

Posts

Hidup Perempuan Haruslah Bernilai (YCPA 2012)

Dahlan Iskan , 19 finalis YCPA 2012 dan tim Martha Tilaar Grup Hidup seorang perempuan haruslah berharga. Dia harus bangga karena tidak sekedar cantik tetapi juga memiliki potensi sehingga mempunyai hak untuk memilih. Keleluasaan berpikir dan bertindak yang membawa pengaruh besar bagi bangsanya. Pesan itulah yang dibawa setiap peserta sepulangnya dari acara Femme Talks & Awarding YCPA 2012 yang diselenggarakan Caring Colours Martha Tilaar di Ballroom Djakarta Theatre, Jl MH Thamrin No.9 Jakarta, tanggal 16 Juni 2012. Acara dengan 9 tokoh inspiratif, dikejutkan  dengan kedatangan  Menteri BUMN, Dahlan Iskan. Dahlan Iskan yang sedang popular dan tidak tercantum dalam daftar  narasumber rupanya menjadi kejutan menyenangkan bagi para undangan. Terbukti dari banyaknya peserta acara yang mengeremuni dan berebut untuk berfoto bersama. Didaulat untuk memberi sambutan awal, beliau menyatakan bahwa 2  petingggi PLN adalah perempuan. Bahkan apabila berke...

Pak, ......Dede Yusufnya Mana?

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari seorang anggota komunitas kami. Pertanyaan yang sebetulnya  biasa saja pada  Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Menjadi tidak biasa karena sejak awal dilantik  langkah Dede Yusuf, sang wakil gubernur kurang senada dan seirama dengan gubernurnya.  Bahkan menghadapi akhir tugas tahun 2013, Dede Yusuf nampaknya tidak mau hanya sekedar menjadi nomor dua, tetapi ingin menjadi nomor satu. Kondisi yang dimaklumi oleh siapapun. Beberapa pihak berusaha memilih tidak membicarakan dan menganggap kedua petinggi di Jawa barat tersebut berbagi tugas sehingga jarang berbarengan dalam satu event. Demikian juga pada event hari lingkungan hidup pada tanggal 25 Juni 2012. Tapi seorang ibu dalam komunitas kami rupanya berpendapat lain. Dia berpendapat seorang gubernur haruslah bersama wakilnya dalam tiap event. Ya, mirip dalam gambar sewaktu pemilihan kepala daerah. Sehingga  dengan lugunya dia bertanya: “Pak, …… pak Ded...

Perempuan dan Social Entrepreneurship

Pelatihan di setiap minggu, tanpa meninggalkan anak-anak (dok. Maria Hardayanto) “ Berbeda dengan pria, perempuan mempunyai kebebasan memilih. Pilihan untuk bekerja atau tidak” . Pendapat Umar Kayam (1932-2002) tersebut ada benarnya. Khususnya untuk kelompok perempuan yang memiliki skill sehingga dia bisa memilih bekerja tanpa meninggalkan tugas utamanya mendidik anak dan mengurus rumah tangga. Tetapi bagaimana halnya dengan perempuan non skill yang ingin bekerja? Jenis pekerjaan yang tersedia umumnya menyita waktu karena harus “menjual tenaga” , misalnya: pembantu rumah tangga, penjaga toko dan buruh pabrik. Pekerjaan yang riskan karena dia harus meninggalkan anak-anaknya minimal 8 jam per harinya. Sungguh dilematis. Memilih bekerja? ….. aduh harus meninggalkan anak yang terkadang masih balita. Memilih tidak bekerja? ……. Mmm ingin mendapat penghasilan walau sedikit. Selain itu dengan pergi bekerja bukankah seorang perempuan berkesempatan mengaktualisasi...

Yani dan Erna, Penyandang Disabilitas yang Telah Berhasil Melatih Ribuan Orang

Yani dan Erna serta kegiatan-kegiatan mereka (dok. Maria Hardayanto) Panik! ! Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB. Pelatihan bersama narapidana dan tahanan perempuan di lembaga pemasyarakatan (LP) perempuan golongan IIA  Bandung harus segera dimulai.  Tapi dua pelatihnya, Yani dan Erna belum juga tiba. Untunglah koneksi pada ponsel Erna akhirnya tersambung: “Bu, Erna salah turun. Erna turun di  LP pria Sukamiskin . Gimana dong?” “Panggil ojek, Er. Naik ojek kesini. Bilang aja mau ke LP perempuan  di jalan Pacuan Kuda”. “Nggak ada ojek yang lewat, bu” Wuaduhh, ……… dengan bergegas, penulis meninggalkan  ibu Neneng dan berlari keluar dari lokasi LP sambil membaca sms yang baru masuk. Rupanya Yanipun turun di lokasi yang sama tapi salah, yaitu LP kelas I yang terletak di jalan Raya Sukamiskin Bandung. Letak LP khusus pria di jalan Sukamiskin  dan LP perempuan di jalan Pacuan Kuda, memang hanya berjarak kurang lebih 100 meter...

Dosa Ekologis Seorang Guru TK

pendidikan lingkungan hidup untuk anak-anak, sederhana tapi bermakna Perbuatan baik haruslah benar. Apabila tidak benar maka akan menjadi kesalahan fatal. Contohnya menengok orang sakit adalah perbuatan baik. Tetapi menjadi tidak benar ketika tetangga satu RT menengok bersama-sama sekaligus. Apalagi sambil membawa makanan yang menjadi pantangan si sakit. Entahlah apa yang akan terjadi. Mungkin penyakitnya akan bertambah parah. Atau bahkan mungkin bisa lebih fatal. Demikian pula halnya dengan pendidikan lingkungan hidup. Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) selama 2 jam per minggu merupakan salah satu pelajaran yang termasuk muatan lokal (Mulok) yang harus diajarkan pada murid-murid sekolah di kotamadya Bandung. Tetapi bagaimana apabila cara pengajarannya salah? Khususnya men yang kut anak-anak sekolah taman kanak-kanak (TK) yang masih polos bak kertas putih belum mendapat core...

Yuk Membuat Terrarium Sederhana

Pendekatan pada masyarakat dengan tujuan perubahan perilaku ramah lingkungan memang gampang-gampang susah. Ada waktunya suatu program berjalan di tempat alias tidak ada perubahan walau berbagai strategi sudah dicoba. Tetapi ada kalanya semua berjalan lancar tanpa hambatan seperti seharusnya jalan tol. Lancar dan menyenangkan. Salah satu kegiatan yang lancar adalah  membuat terrarium. Idenya berawal sewaktu mendapat  cendera mata  pernikahan  Rima , duta WWF Forest Friend yang melepas lajang tanggal 10 Juli 2011. Pembuatan terrarium menarik karena  seluruh anggota keluarga bisa terlibat untuk menanam dan memelihara tanaman hias dengan menggunakan ulang botol/gelas kaca yang sudah tidak terpakai. Bekas mug yang sudah patah pegangannya dan biasanya dibuang juga bisa dibuat cantik kembali. Akhir tujuan pembuatan terrarium bisa melebar. Seorang pembuat terrarium yang tekun dan kreatif bisa mendapat penghasilan dari terrarium yang unik dan inda...

Tri Mumpuni, Srikandi Pembawa Pelita

Setiap mengikuti upacara 17 Agustus, setiap mengheningkan cipta untuk jasa para pahlawan, apakah terbayang perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan ? Memerdekakan rakyat dari penjajahan, kemiskinan, kebodohan dan ketidak-berdayaan. Pastinya sulit, karena kita tidak hidup di era mereka. Kita hidup di era pengisian makna kemerdekaan dimana sudah seharusnya setiap warga Indonesia merdeka seutuhnya , terlepas dari kebodohan, kemiskinan dan ketidak berdayaan. Salah satu faktor yang sangat membantu proses itu adalah fasilitas listrik. Listrik yang diakrabi masyarakat perkotaan hingga apabila terjadi byarpet akan terdengar gerutuan panjang lebar bahkan status facebook dan trending tropic twitter berisi kelalaian PLN tersebut. Bagaimana dengan masyarakat pedesaan khususnya pedesaan tanpa infrastruktur jalan memadai ? Maaf, maaf …….mengurusi listrik di wilayah perkotaan saja PLNsudah keteteran, apalagi untuk pedesaan di wilayah terpencil. ...